Selain email, kode QR jahat juga seringkali dikirimkan kepada korban lewat beberapa cara lain, mulai dari WhatsApp hingga media sosial lain.
QR Code atau Quick Response Code sendiri merupakan kode batang dua dimensi yang dapat dipindai dengan mudah menggunakan kamera atau aplikasi pembaca kode. Komponen utama kode data.
Baca Juga:
Kasus Arisan Bodong Selebgram Diusut Polisi, Kerugian Ditaksir Rp1,8 Miliar
QR bekerja seperti jembatan antara pengguna dengan data. QR akan mengarahkan Anda ke sejumlah besar informasi termasuk URL, detail produk, atau informasi kontak.
Teknologi pemindaian, kata Direktorat, memungkinkan kamera ponsel pintar atau pembaca kode mengakses situs web yang dituju oleh URL dengan mudah dan cepat, alih-alih harus mengetik alamat situs secara manual.
Lebih lanjut, penjahat siber akan menautkan kode QR jahat dengan situs web berbahaya dalam serangan Quishing.
Baca Juga:
Waspada! Penipuan Fake BTS Diprediksi Meningkat Jelang Lebaran
"Biasanya, pelaku akan menyematkan kode QR di email phishing, media sosial, brosur cetak, atau objek fisik, dan menggunakan teknik rekayasa sosial untuk memikat korban."
Misalnya, korban mungkin menerima pesan WhatsApp yang mendesak mereka untuk mengakses pesan suara terenkripsi melalui kode QR agar berpeluang memenangkan hadiah uang tunai.
Usai menggunakan ponsel mereka untuk memindai kode QR, korban akan diarahkan ke situs berbahaya. Situs ini mungkin meminta korban untuk memasukkan informasi pribadi, seperti informasi login, rincian keuangan, atau informasi pribadi.