WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kembali menjadi bola panas politik ketika tafsir dan kepentingan elite saling bertabrakan di ruang publik.
Pengamat hukum dan politik Pieter C Zulkifli menilai pernyataan Kapolri sengaja dijadikan sasaran adu siasat politik di tengah iklim demokrasi yang kerap gaduh oleh perbedaan tafsir.
Baca Juga:
Polri Sambut Dukungan Publik Tetap di Bawah Presiden
Ia menyoroti kecenderungan sebagian pihak yang mempreteli kata-kata, memelintir makna, lalu melemparkannya ke publik sebagai drama konstitusional instan yang menyesatkan nalar.
Dalam catatan analisis politiknya, Pieter mengingatkan bahwa demokrasi tanpa etika hanya akan melahirkan kegaduhan yang menipu rasionalitas publik.
“Ketika pernyataan Kapolri dipelintir demi kepentingan politik, yang dipertaruhkan bukan sekadar kata-kata, melainkan stabilitas institusi dan negara,” kata Pieter Zulkifli dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Baca Juga:
Polemik Kasus Penjambretan, Kapolresta Sleman Dinonaktifkan Sementara
Menurut mantan Ketua Komisi III DPR tersebut, persoalan utama bukan terletak pada diksi Kapolri, melainkan pada hasrat sebagian elite politik yang gemar menguji batas institusi negara.
Ia menilai Polri kerap diseret ke arena sensasi politik sehingga negara justru kehilangan fokus pada agenda yang jauh lebih penting, yakni menjaga stabilitas dan kewarasan hukum.
Di tengah hiruk-pikuk demokrasi, kata Pieter, bahasa sering menjadi medan pertempuran paling licin bukan karena isinya, melainkan karena cara ia dimanipulasi.