Salah satu pekerjaan berat berada pada komoditas tebu karena sektor ini terhubung langsung dengan agenda peningkatan produksi gula nasional.
Tebu membutuhkan pembenahan dari hulu hingga hilir, mulai dari benih, bongkar ratoon, pola tanam, mekanisasi, efisiensi panen, hingga sinkronisasi dengan pabrik gula.
Baca Juga:
Menkes: 300 Ribu Pecandu Narkoba Masih Dipenjara, Rehabilitasi Jadi Solusi
Di sisi lain, kopi dan kakao menghadapi tantangan berbeda karena kedua komoditas ini sangat sensitif terhadap perubahan iklim, kualitas pascapanen, standar mutu, dan permintaan pasar global.
BMKG bersama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia pernah menyoroti bahwa fenomena El Nino dan La Nina dapat menekan hasil panen kopi dan kakao secara signifikan sehingga adaptasi berbasis data iklim menjadi semakin penting.
Bagi direktorat yang menangani tanaman semusim dan tahunan, isu iklim bukan lagi sekadar gangguan musiman, melainkan faktor strategis yang dapat menentukan naik turunnya produksi dan mutu komoditas.
Baca Juga:
Tabrak Lari Aiptu Asep, Mahasiswa 20 Tahun Ditetapkan sebagai Tersangka
Tantangan lainnya adalah memastikan petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Hilirisasi menjadi kata kunci karena tebu, kopi, kakao, lada, pala, jambu mete, dan komoditas lain memiliki nilai ekonomi lebih besar ketika diolah menjadi produk turunan.
“Kementan memfokuskan hilirisasi pada tujuh komoditas strategis, yakni tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, dan pala,” jelas Roni, Kamis (02/10/2025).