Pernyataan itu menggambarkan arah besar bahwa pekerjaan di subsektor perkebunan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga bergerak ke penguatan nilai tambah.
Dalam konteks itu, profil Abdul Roni sebagai birokrat berlatar keteknikan pertanian menjadi relevan karena tantangan perkebunan hari ini membutuhkan pendekatan berbasis teknologi, data, efisiensi, dan inovasi.
Baca Juga:
Mahfud: Jika Tahu Siapa yang Bayar Demo, Sebutkan ke Publik
Ia juga memiliki jejak karya yang sejalan dengan kebutuhan tersebut.
Pada 2019, Abdul Roni menerima Hak Cipta Sistem Rekomendasi Pemupukan Kelapa Sawit atau Precipalm dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Pada 2022, ia menerima Hak Cipta Sistem Informasi Manajemen dan Evaluasi Pasca Pelatihan atau SIMEPP.
Baca Juga:
Halte Tebet Eco Park Hancur Ditabrak Truk, Pengemudi Masih Diburu Polisi
Pada tahun yang sama, ia juga mencatatkan karya Optimalisasi Cabai atau Capsicum annuum L dengan Sistem Irigasi Berbasis IoT.
Jejak inovasi itu menunjukkan ketertarikannya pada penggunaan teknologi untuk membantu proses pengambilan keputusan di sektor pertanian.
Di tengah tuntutan tersebut, perubahan iklim membuat pengelolaan kebun harus lebih adaptif.