Rempah seperti lada, pala, cengkeh, dan vanili membutuhkan penguatan mutu, kontinuitas pasokan, dan akses pasar yang lebih stabil.
Jambu mete dan teh juga memerlukan perhatian karena keduanya memiliki potensi ekonomi tetapi sering berhadapan dengan persoalan produktivitas, regenerasi kebun, dan nilai tambah.
Baca Juga:
Mahfud: Jika Tahu Siapa yang Bayar Demo, Sebutkan ke Publik
Dengan latar sebagai widyaiswara, kepala balai pelatihan, pejabat struktural, direktur serealia, hingga pemegang amanah di tanaman semusim dan tahunan, Abdul Roni membawa kombinasi pengalaman pendidikan, birokrasi, dan teknis.
Kombinasi itu menjadi modal penting karena sektor perkebunan tidak cukup dikelola dengan pendekatan administratif semata.
Sektor ini membutuhkan pemimpin teknis yang memahami petani, data, teknologi, rantai pasok, dan dinamika pasar.
Baca Juga:
Halte Tebet Eco Park Hancur Ditabrak Truk, Pengemudi Masih Diburu Polisi
Bagi banyak pekebun, kebijakan di tingkat pusat akan terasa nyata jika menghasilkan benih yang lebih baik, pendampingan yang lebih dekat, panen yang lebih stabil, harga yang lebih layak, dan akses hilirisasi yang lebih terbuka.
Di titik itulah profil Dr Abdul Roni Angkat menjadi menarik untuk dibaca, bukan sekadar karena jabatan yang melekat padanya, tetapi karena tantangan besar yang kini berada di hadapan putra Dairi tersebut.
[Redaktur: Sandy]