Sebanyak 91 persen peserta mengalami peningkatan pada setidaknya satu aspek, baik dari sisi fokus, kesehatan mental, maupun kesejahteraan secara umum.
Tidak hanya aspek kognitif, kondisi emosional peserta juga menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Baca Juga:
Sering Dianggap Antisosial, 3 Kebiasaan Ini Justru Tanda Kecerdasan Tinggi
Gejala depresi dilaporkan menurun, bahkan disebut lebih efektif dibandingkan penggunaan obat antidepresan dan setara dengan terapi perilaku kognitif.
Mayoritas peserta merasa lebih puas terhadap hidup dan mengalami peningkatan emosi positif selama masa detoks berlangsung.
“Hal yang perlu ‘didetoks’ bukan telepon atau pesan, tetapi media sosial dan stimulasi cepat dari aplikasi,” ujar Prof. Kostadin Kushlev dari Georgetown University.
Baca Juga:
Polres Tebo diminta segera Tangkap inisial H dan STI pelaku PETI Ilegal di kabupaten Tebo
Peneliti menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada perangkat ponsel itu sendiri, melainkan pada jenis konten yang dikonsumsi.
Paparan berlebihan terhadap konten instan seperti media sosial, video pendek, dan game dinilai mengganggu kemampuan otak dalam menjaga fokus.
Selama penelitian berlangsung, waktu penggunaan layar peserta turun drastis dari lebih dari lima jam menjadi kurang dari tiga jam per hari.