Partikel dengan ukuran lebih kecil dari PM2.5 bahkan dapat masuk ke aliran darah manusia dan menyebar ke seluruh tubuh sehingga berpotensi merusak berbagai organ mulai dari otak hingga sistem reproduksi.
Sementara itu, nitrogen dioksida atau NO2 diketahui dapat merusak saluran pernapasan dan bereaksi dengan air di atmosfer hingga memicu terbentuknya hujan asam.
Baca Juga:
Jaga Kualitas Udara Kawasan Aglomerasi Jabodetabekjur, MARTABAT Prabowo-Gibran Dukung Menteri LH Segel Pabrik Logam di Banten
Dalam laporan tersebut juga dijelaskan bahwa penurunan polusi udara secara signifikan bisa dicapai dalam waktu sekitar 15 tahun melalui berbagai langkah intervensi kebijakan.
Beberapa upaya yang disebutkan antara lain peralihan kendaraan berbahan bakar fosil ke mobil listrik di China, perluasan jalur sepeda di sejumlah kota besar Eropa, hingga pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil di London.
Meski demikian, laporan tersebut tidak secara rinci menguraikan hubungan sebab-akibat antara kebijakan nasional dan kebijakan lokal dalam memperbaiki kualitas udara.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Soroti Polusi dari Pembakaran Sampah, Minta Penegakan Perda Konsisten
Menghirup udara yang tercemar diketahui dapat berdampak pada kesehatan manusia sepanjang siklus hidup.
Dampaknya mulai dari bayi yang berisiko lahir dengan berat badan rendah dan anak-anak yang rentan mengalami asma, hingga meningkatnya risiko kanker serta penyakit jantung pada usia dewasa.
Sejumlah penelitian dalam satu dekade terakhir bahkan menemukan hubungan antara paparan polusi udara dengan penurunan kemampuan kognitif serta meningkatnya risiko demensia pada kelompok usia lanjut.