“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan energi domestik dan percepatan transisi energi,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, posisi tersebut memberikan ruang fiskal yang lebih stabil bagi APBN 2026 serta membantu menjaga daya beli masyarakat dan keberlangsungan dunia usaha di tengah volatilitas harga energi global.
Baca Juga:
Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Bupati Nias Barat Harap Masyarakat Beri Data Valid
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai berbagai risiko ke depan. Sejumlah langkah strategis terus diperkuat, antara lain optimalisasi produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca migas, percepatan pengembangan energi baru terbarukan sesuai RUKN dan RUPTL, serta perluasan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai.
Selain itu, diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi juga menjadi fokus untuk meningkatkan ketahanan terhadap potensi gangguan geopolitik.
Ke depan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan terus mengoordinasikan kebijakan energi dan fiskal secara terintegrasi guna menjaga momentum ketahanan energi nasional, sekaligus memastikan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Baca Juga:
Survei BI: Konsumen Tetap Percaya Ekonomi Kuat, Tapi Porsi Tabungan Mulai Menipis
[Redaktur: Jupriadi]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.