MARTABAT Prabowo-Gibran juga melihat keterkaitan antara restrukturisasi BUMN dengan agenda hilirisasi melalui Danantara sebagai langkah strategis.
Konsolidasi aset negara akan memiliki nilai lebih besar apabila diarahkan untuk membangun industri pengolahan dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Baca Juga:
Tahun Kedua Prabowo Pimpin Upacara HUT RI, Istana Merdeka Dipenuhi Ribuan Undangan
Tohom menyebut groundbreaking 26 proyek hilirisasi sepanjang Februari dan April 2026 perlu dikawal secara serius.
Proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, alumina menjadi aluminium, hingga waste to energy.
“Indonesia sudah terlalu lama kuat sebagai pemilik sumber daya tetapi belum maksimal sebagai pencipta nilai tambah,” ujarnya.
Baca Juga:
BUMN Panen Laba Jumbo, Semen Indonesia Naik 408,9 Persen hingga Pupuk Indonesia 252,8 Persen
Menurut Tohom, Danantara harus menjadi instrumen untuk menyatukan modal, aset, sumber daya alam, teknologi, dan industri nasional dalam satu arah pembangunan yang jelas.
Ia juga berpandangan pengelolaan devisa hasil ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memiliki dimensi strategis.
Pengawasan terhadap transaksi ekspor dapat membantu negara memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai nilai ekonomi sumber daya yang keluar dari Indonesia.