“Jadi income-nya rendah kan di sini jadi saya rugi banyak,” tutur Purbaya.
Ia juga membeberkan salah satu contoh temuan yang menunjukkan nilai ekspor dari Indonesia hanya tercatat sebesar 2,6 juta dollar Amerika Serikat sementara data impor di Amerika Serikat mencapai 4,2 juta dollar AS sehingga terdapat selisih sekitar 57 persen.
Baca Juga:
Alasan Bentuk BUMN Khusus Ekspor: Eksportir Culas Jual Murah SDA RI di Singapura-India
Temuan lain bahkan menunjukkan selisih harga yang lebih mencolok hingga ratusan persen dalam satu pengapalan.
“Ada yang lebih gila lagi satu perusahaan lagi di sini ekspornya 1,44 juta dollar AS di sana 4 juta dollar AS lebih dan berubah harga 200 persen,” kata dia.
Purbaya mengatakan penelusuran dilakukan hingga level kapal pengangkut guna memastikan kecocokan volume serta jalur pengiriman barang agar dugaan manipulasi dapat diverifikasi secara rinci.
Baca Juga:
Periode Mei 2026: HR CPO dan HPE Biji Kakao Naik; HPE Produk Kulit, Kayu, dan Getah Pinus Tetap
Meski sudah mengantongi data perusahaan yang diduga terlibat, Purbaya belum mengungkap identitas 10 perusahaan besar CPO tersebut kepada publik.
Ia juga menegaskan dugaan manipulasi harga ekspor tidak hanya ditemukan pada komoditas CPO karena pola serupa mulai terlihat dalam ekspor batu bara.
“Ini baru CPO nanti ada batu bara juga,” kata Purbaya.