Menurutnya, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto lebih baik mengambil jalur diplomasi dibandingkan menerapkan kebijakan tarif balasan.
Meski demikian, ia meragukan klaim Trump yang menuduh Indonesia melakukan manipulasi nilai tukar serta hambatan perdagangan sebesar 64% terhadap AS.
Baca Juga:
Hadapi Tarif Trump, Ini Tiga Senjata Presiden Prabowo
“Trump mengatakan bahwa jika negara lain menurunkan tarifnya, AS juga akan melakukan hal yang sama. Namun, apakah benar ada manipulasi mata uang dan hambatan perdagangan sebesar itu?” tambahnya.
Fadhil menilai bahwa jika negara-negara terdampak tarif ini tidak membalas dengan tindakan serupa, perdagangan global akan lebih adil.
Sebaliknya, jika terjadi perang dagang, dunia akan menghadapi stagnasi ekonomi, bahkan resesi.
Baca Juga:
Trump Lakukan Pemangkasan Brutal, 62 Ribu Pegawai AS Kehilangan Pekerjaan
“Jika negosiasi dilakukan, peluang perdagangan yang lebih fair bisa tercipta. Trump sendiri menggunakan tarif ini sebagai alat tawar dalam perdagangan global,” jelasnya.
Sementara itu, ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memperingatkan bahwa kebijakan Trump ini berpotensi memperlambat ekonomi global secara masif.
Ia memprediksi bahwa IMF, World Bank, dan OECD akan segera merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akibat kebijakan tersebut.