WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang opini global setelah ia secara terbuka mengakui peran Hamas dalam proses pengamanan dan pemulangan sandera Israel di tengah perang Gaza yang brutal.
Dalam sejumlah pernyataan publik terbarunya, Trump menyebut Hamas sebagai aktor kunci yang memastikan sandera Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, dapat dikembalikan melalui jalur negosiasi.
Baca Juga:
Greenland dan Ambisi yang Terlalu Jauh
Pujian tersebut muncul di tengah realitas medan perang yang nyaris mustahil, ketika Gaza terus digempur selama dua tahun dan infrastruktur sipil maupun militer dihancurkan secara sistematis oleh Israel.
Pengakuan Trump menyoroti fakta bahwa Hamas tetap mampu menjaga sandera di bawah tekanan militer ekstrem dan blokade total.
Kisah pengelolaan sandera ini bermula sejak kekacauan serangan 7 Oktober 2023 yang memicu eskalasi konflik berskala besar.
Baca Juga:
Ambisi Trump atas Greenland Picu Wacana Pelengseran Presiden AS
Tak lama setelah serangan tersebut, pimpinan Brigade Al-Qassam selaku sayap militer Hamas segera bergerak menghubungi komandan lapangan dari faksi-faksi Palestina lain yang turut menahan sandera.
Langkah itu dilakukan untuk mengonsolidasikan data, mengambil alih pengawasan, serta memastikan keselamatan setiap sandera dan jenazah yang berada di tangan berbagai kelompok.
“Ini adalah tugas yang sangat sulit dan berat,” ujar seorang sumber internal Hamas.