Hamas yang dicap Barat sebagai organisasi teroris justru mendapatkan pengakuan terbuka dari Presiden Amerika Serikat atas efisiensi operasionalnya.
Pengakuan itu dinilai sebagai refleksi pragmatisme Trump dalam membaca realitas politik dan militer di lapangan.
Baca Juga:
Greenland dan Ambisi yang Terlalu Jauh
Trump, dengan gaya khasnya, mengakui bahwa mekanisme pengelolaan sandera Hamas berjalan presisi di lorong-lorong gelap Gaza.
Di tengah dinamika itu, pemerintahan Trump juga menyiapkan langkah diplomatik lanjutan.
Pemerintah AS berencana menggelar Konferensi Tingkat Tinggi perdana Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace pada Rabu (19/2/2026).
Baca Juga:
Ambisi Trump atas Greenland Picu Wacana Pelengseran Presiden AS
KTT ini ditujukan untuk mempercepat tahap kedua gencatan senjata sekaligus menjadi forum penggalangan dana internasional bagi rekonstruksi Gaza.
“Pertemuan tersebut direncanakan menjadi forum pertama Dewan Perdamaian sekaligus konferensi donor berskala besar,” ujar seorang pejabat AS.
Gedung Putih telah mulai menghubungi puluhan negara untuk mengoordinasikan kehadiran para pemimpin dunia di United States Institute of Peace, Washington.