Penutupan gerai selama setengah hari diperkirakan menyebabkan hilangnya penjualan sebesar 1,4 juta dolar AS atau setara sekitar Rp25 miliar.
Data WISEAPP menunjukkan volume pembayaran Starbucks Korea sempat merosot 26 persen pada pekan pertama setelah kontroversi mencuat.
Baca Juga:
Kajari Sergai Ditangkap Kejagung, Kejati Sumut Gerak Cepat Tunjuk Bani Ginting Jadi Plh
Angka transaksi kemudian naik 12,8 persen pada pekan pertama Juni.
Meski mulai membaik, aktivitas transaksi Starbucks Korea disebut masih berada 25 persen di bawah kondisi normal sebelum skandal.
Manajemen menyatakan kerugian akibat penutupan gerai menjadi bukti keseriusan perusahaan dalam memperbaiki sensitivitas sosial.
Baca Juga:
PLN Perluas Listrik Bersih ke Rote Ndao, ALPERKLINAS: Energi Surya Buka Jalan Ekonomi Maritim Warga
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi korporasi besar bahwa strategi pemasaran tidak bisa dilepaskan dari ingatan sejarah, trauma sosial, dan sensitivitas publik.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.