"Sebanyak 60 pesawat sipil tidak dapat digunakan lagi, di mana 20 di antaranya hancur total," ungkapnya.
Saat ini, Iran hanya mengoperasikan sekitar 160 pesawat penumpang yang sebagian besar berusia tua dan dipertahankan melalui perawatan intensif.
Baca Juga:
Kasus Penyiraman Andrie Yunus: Dendam Pribadi Jadi Kunci Perkara
Kondisi ini diperparah oleh sanksi Amerika Serikat yang membatasi akses terhadap suku cadang dan layanan perawatan.
Ia juga menambahkan bahwa maskapai kehilangan potensi pendapatan signifikan selama periode libur Nowruz.
Dalam kurun 40 hari konflik, total kerugian sektor penerbangan diperkirakan melampaui USD 190 juta.
Baca Juga:
Tekanan Utang Menghimpit, Bripka Alexander Riberu Ditemukan Tewas Gantung Diri
Kerusakan turut terjadi di sejumlah bandara internasional seperti Teheran, Tabriz, Urmia, dan Khorramabad, mencakup landasan pacu, menara kontrol, hingga hanggar.
Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan sikap keras dalam negosiasi dengan Washington meskipun menghadapi blokade laut oleh Angkatan Laut AS sejak Senin (13/4/2026).
Juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, bahkan menolak perpanjangan gencatan senjata dua pekan.