WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan geopolitik memuncak saat Iran mulai menerapkan “tarif melintas” di Selat Hormuz, langkah yang berpotensi mengubah peta perdagangan energi dunia sekaligus mengalirkan keuntungan raksasa bagi Teheran.
Kebijakan ini muncul sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel, yang mendorong Iran mengambil kendali lebih ketat atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga:
Di Balik Serangan AS: Ludesnya 2 Juta Minuman Energi dan 950 Ribu Galon Kopi
Yahya Al-e Eshagh, Ketua Kamar Dagang Gabungan Iran-Irak, menyebut potensi pendapatan dari kebijakan ini sangat besar.
“Iran secara teoritis dapat menghasilkan 70 miliar dolar AS hingga 80 miliar dolar AS per tahun dari Selat Hormuz dengan mengenakan biaya untuk layanan yang disediakan di sana,” ujarnya.
Nilai tersebut bahkan berpotensi melampaui pendapatan ekspor minyak Iran yang mencapai 41,1 miliar dolar AS pada 2023 dan meningkat menjadi 46,7 miliar dolar AS pada 2024.
Baca Juga:
Perang 39 Hari Usai: AS Rugi Besar, 37 Pesawat Hancur
Ia menambahkan bahwa Iran setidaknya dapat memungut biaya sebesar 10 persen dari harga minyak yang melintasi Selat Hormuz berdasarkan hukum maritim.
“Selat tersebut mencakup sekitar 20 persen hingga 30 persen perdagangan global,” jelasnya.
Kolumnis Reuters Hugo Dixon memperkirakan potensi pendapatan Iran bisa mencapai 500 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan jika kebijakan ini terus berjalan.