Kepala Ekonom JP Morgan Bruce Kasman memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup, harga minyak berpotensi melonjak hingga menembus US$ 150 per barel atau setara sekitar Rp 2,55 juta dan bahkan bisa lebih tinggi.
Di tengah tekanan tersebut, Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Keuangan sempat memberikan pengecualian sementara terhadap transaksi minyak Rusia hingga 12 April sebagai langkah menjaga stabilitas harga energi.
Baca Juga:
Rusia Klaim Kemenangan Baru, Kuasai Penuh Luhansk Ukraina Timur
Kebijakan itu disebut sebagai penyesuaian sanksi untuk meredam lonjakan harga di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menegaskan bahwa langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas pasar energi dunia yang tengah bergejolak.
Di sisi lain, Rusia mulai mengalihkan strategi ekspor energinya dengan memprioritaskan pasokan gas alam cair atau LNG ke kawasan Asia.
Baca Juga:
Rusia Hapus Domain YouTube dan WhatsApp, Akses Internet Kian Diperketat
Moskow juga menegaskan bahwa negara-negara yang dianggap tidak bersahabat akan berada di urutan terakhir dalam distribusi LNG mereka.
Langkah ini sejalan dengan rencana Uni Eropa yang menargetkan penghentian total impor LNG dari Rusia pada tahun 2027.
Sebagai respons, Rusia menyatakan akan mempercepat pengalihan ekspor ke pasar alternatif yang dinilai lebih prospektif.