"Kalau penjara ditutup, tentu tidak menggembirakan bagi pegawai kita yang bekerja di sana," kata Oosterveer.
Oosterveer menjelaskan, pembicaraan dengan Norwegia dilakukan agar sel kosong tetap dimanfaatkan dan gelombang pemutusan hubungan kerja bisa dihindari.
Baca Juga:
Darmawan Prasodjo Tetap Pimpin PLN, RUPS 2026 Perkuat Struktur Direksi Perseroan
"Itulah yang kami bahas bersama pemerintah Norwegia, supaya tidak perlu ada orang yang dipecat," kata Oosterveer.
Dalam perjanjian yang diteken saat itu, Norwegia bersedia mengirim sekitar 250 narapidana berkekuatan hukum tetap untuk menjalani masa hukuman di penjara Belanda.
Berdasarkan perhitungan Oosterveer, kebijakan tersebut membantu Belanda mempertahankan ratusan pekerjaan di sektor pemasyarakatan dan mencegah dampak sosial dari penutupan lapas.
Baca Juga:
Bandara Kalimarau Kurangi Beban Listrik Harian Lewat PLTS On-Grid
Kabar itu menjadi angin segar bagi pemerintah Belanda dan Norwegia, tetapi tidak sepenuhnya menggembirakan bagi para narapidana yang dipindahkan.
Para tahanan asal Norwegia dikenal terbiasa dengan fasilitas penjara yang sangat manusiawi, bahkan kerap dibandingkan dengan penginapan karena menyediakan fasilitas rekreasi, ruang olahraga, dan hiburan di dalam lingkungan tahanan.
Penjara Norwegia selama ini memang dikenal mengedepankan rehabilitasi, sehingga narapidana tidak hanya dikurung, tetapi juga diarahkan untuk kembali siap hidup di tengah masyarakat.