Di sisi lain, pasar energi dunia langsung bereaksi setelah kabar perdamaian itu tersiar.
Harga minyak mentah jenis Brent turun lebih dari 4 persen menuju US$83 per barel setelah sebelumnya ditutup pada level terendah dalam lebih dari tiga bulan.
Baca Juga:
AS dan Iran Akhiri Perang, Selat Hormuz Kembali Dibuka untuk Dunia
Penurunan harga minyak itu terjadi karena pelaku pasar melihat peluang berkurangnya risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk.
Nilai transaksi saham berjangka di Amerika Serikat juga bergerak naik, sementara dolar AS melemah terhadap mata uang utama negara-negara maju G10.
Meski demikian, para analis menilai kesepakatan sementara ini belum dapat dianggap sebagai jaminan penuh bahwa ketegangan akan benar-benar berakhir.
Baca Juga:
Harga Pangan Bisa Melonjak, Perang AS-Iran Ancam Pasokan Pupuk Dunia
“Ini masih merupakan langkah awal yang penuh harapan, bukan sebuah kepastian,” ungkap analis utama untuk Asia Pasifik dan Timur Tengah di eToro Ltd, Josh Gilbert.
Menurut Gilbert, investor masih perlu berhati-hati karena kekhawatiran pasar tidak akan hilang sepenuhnya sebelum kesepakatan resmi ditandatangani.
“Kekhawatiran tidak akan sepenuhnya hilang sampai perjanjian resmi ditandatangani, artinya para pelaku investasi tetap harus berhati-hati,” ungkap Josh Gilbert.