Kesepakatan sementara itu dinilai dapat meredakan kekhawatiran terhadap kembalinya konflik bersenjata yang sebelumnya menghantam pasar energi global.
Langkah damai ini juga berpotensi menekan risiko lonjakan inflasi akibat gangguan pasokan minyak dan ketidakpastian jalur pelayaran.
Baca Juga:
AS dan Iran Akhiri Perang, Selat Hormuz Kembali Dibuka untuk Dunia
Bagi Trump, kesepakatan ini juga dapat mengurangi tekanan politik menjelang pemilihan umum paruh waktu pada November 2026.
Hasil jajak pendapat menunjukkan perang tersebut tidak populer di kalangan warga Amerika Serikat.
Namun, Trump tetap memberi sinyal keras bahwa opsi militer belum sepenuhnya ditutup apabila pembicaraan mengenai program nuklir Iran tidak berjalan sesuai harapan.
Baca Juga:
Harga Pangan Bisa Melonjak, Perang AS-Iran Ancam Pasokan Pupuk Dunia
Dalam wawancara dengan The New York Times pada Minggu (14/6/2026), Trump menyebut serangan militer dapat dilanjutkan jika kesepakatan nuklir tidak bergerak mulus.
Perbedaan tafsir antara AS dan Iran terlihat hanya beberapa menit setelah kesepakatan diumumkan.
Kondisi itu memperlihatkan betapa rumitnya merumuskan titik temu atas berbagai isu yang belum selesai.