Di sisi pasokan, Korea Selatan mengambil langkah strategis dengan mengaktifkan kembali lima reaktor nuklir pada Mei serta melonggarkan pembatasan pembangkit listrik berbasis batu bara untuk menjaga stabilitas energi.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat pengembangan energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap impor LNG.
Baca Juga:
Bikin BGN Murka Usai Joget di Dapur, Pria Ini Ternyata Kelola 7 Titik SPPG
Penyesuaian bauran energi ini diperkirakan mampu menghemat hingga 14.000 ton atau sekitar 20 persen dari konsumsi LNG harian yang mencapai 69.000 ton untuk pembangkit listrik.
Sejumlah korporasi besar turut ambil bagian dalam gerakan ini, termasuk Grup HD Hyundai yang telah menerapkan pembatasan kendaraan secara sukarela, pengurangan penggunaan plastik, serta efisiensi listrik seperti mematikan lampu di berbagai unit usaha.
Pemerintah juga tengah menyiapkan langkah fiskal dengan merancang anggaran tambahan sebesar 25 triliun won atau setara US$ 16,6 miliar untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis energi global.
Baca Juga:
Rudal Iran Hantam Dekat Tel Aviv, Belasan Warga Terluka
“Yang terpenting bukan menghemat anggaran pemerintah, melainkan menyalurkan dana secara cepat dan tepat sasaran,” ujar Presiden Lee Jae Myung.
Kementerian Keuangan menyatakan bahwa proposal anggaran tersebut akan diajukan ke parlemen sebelum akhir Maret sebagai bagian dari strategi respons cepat menghadapi dampak krisis energi.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.