Ucapan tersebut memperkuat kesan bahwa Trump kerap mengubah tragedi menjadi bahan komentar spontan tanpa mempertimbangkan dampak emosionalnya.
Dalam isu harga minyak, Trump juga menunjukkan pola komunikasi serupa dengan menyebut kenaikan harga minyak dapat menguntungkan Amerika Serikat.
Baca Juga:
Ini Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026
Menurut Trump, posisi AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia membuat kenaikan harga minyak tidak perlu dilihat sebagai kabar buruk.
"Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh di atas negara lain, jadi ketika harga minyak naik, kami menghasilkan banyak uang," tulis Trump di media sosial pada Maret 2026.
Pernyataan itu menuai kritik karena mayoritas warga Amerika bukan pekerja sektor minyak dan justru merasakan dampak kenaikan harga energi.
Baca Juga:
AS Cairkan Aset Iran Rp102 Triliun, Sinyal Keras Menuju Kesepakatan Baru
Bagi banyak rumah tangga, harga minyak yang naik berarti biaya bensin, transportasi, dan kebutuhan harian ikut membengkak.
Trump juga pernah memicu polemik saat membahas dampak tarif impor terhadap konsumen Amerika.
Pada April 2025, ia mengatakan keluarga Amerika bisa mengurangi pembelian barang untuk anak-anak mereka.