Sementara itu, kasus yang ditemukan di Indonesia disebabkan oleh Seoul Virus.
Varian ini memicu Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memiliki tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen.
Baca Juga:
Setelah 996 Senapan, Polisi Kembali Temukan Airsoft Gun dan 117 Peluru di Sekolah
Faktor risiko utama penularan HFRS di Indonesia adalah kontak langsung dengan tikus atau celurut, termasuk paparan terhadap urine, kotoran, dan air liurnya.
Walaupun tingkat kematiannya lebih rendah dibandingkan HPS, hantavirus di Indonesia tetap perlu diwaspadai.
Untuk mencegah penularan, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menerapkan sejumlah langkah pencegahan.
Baca Juga:
Fakta Baru Sebelum Winda Lorenza Tewas, Ada Jam Tag Heuer Rp65 Juta dari Orlando Sianipar
Masyarakat diminta rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer.
Etika batuk dan bersin juga perlu diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Kontak langsung dengan tikus atau celurut serta ekskresi dan sekresinya harus dihindari.