WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam proses pemulihan pascabencana.
Menurutnya, pendekatan penanggulangan bencana yang berkeadilan tidak hanya menekankan aspek infrastruktur dan logistik, tetapi juga kemanusiaan dan keadilan sosial bagi semua kelompok masyarakat.
Baca Juga:
Kemen PPPA dan BPIP Perkuat Kolaborasi Dorong Pemberdayaan Perempuan Berbasis Nilai Pancasila
“Sistem penanggulangan bencana yang inklusif harus memastikan perempuan dan anak tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga memiliki ruang untuk berperan aktif dalam proses pemulihan. Bencana bukan hanya ujian bagi infrastruktur tetapi juga bagi rasa kemanusiaan dan keadilan sosial kita,” kata Arifah Fauzi dalam keterangannya, Kamis (6/11/2025).
Arifah menilai, keterlibatan perempuan dan anak dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pascabencana sangat penting.
Keterlibatan tersebut dapat memastikan kebutuhan korban terutama kelompok rentan dapat terpenuhi dengan cara yang adil, berkelanjutan, dan berperspektif gender.
Baca Juga:
Kemen PPPA Sambut Regulasi Baru Komdigi untuk Perkuat Perlindungan Anak di Ruang Digital
“Oleh karena itu, membangun sistem penanggulangan bencana yang inklusif berarti memastikan perempuan dan anak tidak hanya menjadi penerima bantuan saja. Tetapi juga subjek yang berdaya dan berperan aktif dalam pemulihan,” ucap Arifah.
Lebih lanjut, Arifah mengungkapkan bahwa dampak bencana terhadap kelompok rentan sering kali lebih berat.
Salah satu risiko yang meningkat adalah terjadinya kekerasan berbasis gender (KBG).