Dengan demikian, setiap tahapan mulai dari pengolahan hingga distribusi harus dikelola secara baik untuk meminimalkan risiko yang dapat mengganggu kesehatan penerima manfaat.
Selain persoalan keamanan pangan, Edy juga menyoroti pentingnya memastikan penerima MBG benar-benar berasal dari kelompok yang membutuhkan.
Baca Juga:
Ratusan Siswa di Berastagi Diduga Keracunan MBG, Gejala dari Gatal hingga Sesak Napas
Ia menilai program tersebut semestinya memberikan perhatian lebih besar kepada daerah dengan tingkat malnutrisi dan stunting yang tinggi serta masyarakat yang memiliki risiko lebih besar mengalami persoalan gizi.
Menurut Edy, masih terdapat sejumlah wilayah yang dikenal sebagai kantong stunting, tetapi belum memperoleh prioritas sebagaimana mestinya dalam pelaksanaan program.
“Daerah lima provinsi kantong stunting kita belum. NTT, Papua, Maluku, Sulawesi Barat yang harusnya mendapat prioritas pertama malah terlambat dibanding dengan provinsi yang lain,” tegasnya.
Baca Juga:
Ada Dugaan Keracunan MBG Lagi di Berastagi, Sudaryono Angkat Suara
Karena itu, Edy mendorong BGN melakukan pemetaan ulang terhadap kelompok penerima manfaat agar program MBG lebih fokus pada masyarakat dengan tingkat kebutuhan gizi yang tinggi.
Kelompok masyarakat kurang mampu dan mereka yang memiliki risiko malnutrisi serta stunting, menurutnya, harus menjadi salah satu prioritas utama.
“Jangan sampai justru orang yang miskin tidak dapat. Jadi yang penerima manfaat orang mampu sebaiknya diefisiensi, lalu fokus pada kelompok risiko tinggi malnutrisi dan stunting,” ujarnya.