WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah terus memperkuat upaya mewujudkan kemandirian di sektor kesehatan melalui pengembangan vaksin dalam negeri.
Salah satu langkah yang kini didorong adalah pengembangan vaksin dengue berbasis teknologi messenger RNA (mRNA) melalui kolaborasi antara Universitas Indonesia (UI) dan Tsinghua University, Tiongkok.
Baca Juga:
Tudingan Normalisasi LGBT di UI oleh Ormas: Pihak Kampus Tegaskan Hanya Kajian Akademik
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pengembangan vaksin tersebut diharapkan mampu menambah jumlah vaksin yang dapat diproduksi secara mandiri di Indonesia.
Menurutnya, kemampuan produksi vaksin nasional masih perlu ditingkatkan agar tidak terus bergantung pada negara lain.
“Mudah-mudahan kalau ini bisa selesai, bisa menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia. Karena seperti saya sampaikan tadi, kita butuh 15 antigen, baru empat yang bisa diproduksi dari awal di Indonesia,” kata Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga:
20 Kampus Terbaik Indonesia Versi QS WUR 2027, UI Masih Tak Tergoyahkan
Budi menjelaskan, penguatan kapasitas produksi vaksin menjadi kebutuhan mendesak karena Indonesia masih menghadapi tingginya angka penyakit menular setiap tahunnya.
Salah satu penyakit yang masih menjadi tantangan serius adalah demam berdarah dengue (DBD), yang setiap tahun menginfeksi sekitar 151 ribu orang dan kini menempati urutan keempat penyakit menular dengan beban kasus tertinggi di Indonesia.
Menurutnya, hingga saat ini masih terdapat sejumlah vaksin untuk penyakit prioritas yang belum mampu diproduksi di dalam negeri. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam memperkuat industri farmasi nasional.
“Empat penyakit menular utama belum memiliki vaksin produksi Indonesia. Vaksin malaria dan dengue sudah tersedia, tetapi masih diproduksi negara lain,” ujar Menkes.
Ia menambahkan, pemerintah akan memprioritaskan pengembangan vaksin untuk penyakit dengan angka kejadian dan tingkat kematian yang tinggi.
Selain mendukung pengendalian penyakit, langkah tersebut juga mempertimbangkan efektivitas program imunisasi nasional agar jumlah suntikan yang diterima masyarakat, khususnya anak-anak, tidak terlalu banyak.
“Kalau kebanyakan disuntik, ibu-ibu juga merasa tidak nyaman kalau anaknya kebanyakan disuntik. Jadi kita akan pilih vaksin-vaksin baru yang disuntikkan adalah vaksin-vaksin yang paling banyak insiden dan kematian,” ucap Menkes Budi.
Lebih lanjut, Budi mengapresiasi dukungan berbagai kementerian dan lembaga yang terlibat dalam pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA.
Sinergi tersebut dinilai menjadi faktor penting untuk mempercepat proses riset, inovasi, hingga produksi vaksin di dalam negeri.
Kolaborasi itu melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai pendukung pembiayaan riset.
“Saya mengapresiasi dukungan Kemdiktisaintek, BRIN, dan LPDP dalam pengembangan vaksin ini. Kolaborasi tersebut penting mempercepat riset, inovasi, hingga produksi vaksin nasional,” kata Budi.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan bahwa kerja sama penelitian vaksin dengue antara Indonesia dan Tiongkok sebenarnya telah dimulai sejak 2023.
Saat itu, ia masih berstatus sebagai profesor di Tsinghua University dan turut terlibat dalam perintisan kolaborasi riset tersebut.
“Waktu itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Sehingga waktu itu kita memetakan kebutuhan Indonesia dan kemampuan China untuk mensupport,” kata Stella.
Stella menjelaskan, kemitraan yang dibangun sejak awal tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga diarahkan agar hasil riset dapat berlanjut hingga tahap hilirisasi dan produksi di Indonesia.
Menurutnya, keterlibatan PT Etana menjadi salah satu faktor penting dalam menjembatani proses tersebut sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti di laboratorium.
Ia menilai pola kolaborasi yang langsung diwujudkan melalui kerja nyata merupakan model kerja sama yang efektif dalam mempercepat pengembangan teknologi kesehatan dan industri vaksin nasional.
“Kalau tadi pertanyaannya ke depan kita akan bagaimana, inilah model yang paling bagus. Jadi tidak tanda tangan MoU dulu, tapi justru bekerja sama dahulu, sungguh-sungguh,” ujar Stella.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]