Semakin lama akses belum terbuka, semakin sulit pula bantuan berupa kebutuhan pokok, air, maupun berbagai keperluan darurat lainnya dapat disalurkan kepada masyarakat.
“Masih cukup berat, tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam menangani bencana di NTT. Bahkan ada beberapa daerah masih belum bisa diakses. Sedangkan belum bisa diakses, berarti bantuan belum bisa datang,” ujar legislator dati Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Baca Juga:
Komisi VIII Dorong UPQ Ciawi Jadi Pusat Literasi Keagamaan Islam Inklusif
Selain akses transportasi, Lasarus turut menyoroti kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penggunaan sumur bor sederhana sebagai salah satu alternatif untuk menyediakan sumber air dalam waktu relatif cepat.
Menurutnya, dalam kondisi darurat, penyediaan air bersih tidak selalu harus menunggu pembangunan infrastruktur berskala besar.
Baca Juga:
RUU Penyiaran Diharapkan Lindungi Kreator dan Ciptakan Ekosistem Digital yang Adil
Apabila kondisi geografis dan ketersediaan sumber air memungkinkan, teknologi sederhana dapat dimanfaatkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Yang penting air bisa ditemukan. Itu menurut saya bisa. Saya pengalaman kalau di tempat saya di Kalimantan, kita bisa dengan alat yang sederhana itu satu-dua hari itu, qsatu sumur sudah bisa jadi,” kata Lasarus.
Pengalaman tersebut, lanjutnya, dapat menjadi salah satu referensi yang dipertimbangkan pemerintah untuk diterapkan di wilayah terdampak bencana di NTT.