Kondisi ini dinilai semakin krusial mengingat fase puncak ibadah haji di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) akan segera berlangsung, di mana mobilitas jemaah sangat tinggi dan risiko gangguan kesehatan meningkat.
Menurutnya, layanan kesehatan menjadi salah satu aspek paling penting dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Baca Juga:
Perizinan Alat Kesehatan Jadi Kunci Daya Saing Industri Kesehatan Nasional
Hal itu tidak terlepas dari karakteristik jemaah haji Indonesia yang mayoritas merupakan kelompok lanjut usia serta memiliki kategori risiko tinggi atau komorbid.
Karena itu, kesiapan fasilitas kesehatan harus benar-benar optimal agar mampu memberikan pelayanan cepat dan tepat.
Dalam kesempatan tersebut, Nihayatul juga menyempatkan diri mengunjungi sejumlah pasien yang tengah menjalani perawatan di KKHI.
Baca Juga:
Fasilitas Medis Mulai Pulih, RSUD Langsa Aktifkan Lagi Sejumlah Ruangan Prioritas
Dari hasil pantauannya, sebagian besar pasien disebut sudah menunjukkan perkembangan kondisi yang baik dan beberapa di antaranya telah diperbolehkan kembali ke kelompok terbang masing-masing.
“Kebanyakan pasien sudah boleh diizinkan pulang dalam kondisi sudah baik,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembenahan sistem layanan kesehatan haji tidak bisa lagi ditunda.