WAHANANEWS.CO, Jakarta — Konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi sorotan. Forum Penyelamatan Nahdlatul Ulama (FPNU) menilai dinamika di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut telah memasuki fase yang memprihatinkan dan berpotensi menguras energi warga Nahdliyin.
Ketua Forum Penyelamatan Nahdlatul Ulama, Abdul Hamid Rahayaan, mengatakan polemik yang melibatkan sejumlah elite PBNU, termasuk Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf, dan Nusron Wahid, telah menimbulkan keresahan hingga ke tingkat akar rumput.
Baca Juga:
Masinton Pasaribu Buka Konferensi Cabang XVIII Muslimat NU Tapteng
Menurut Abdul Hamid, perselisihan di jajaran elite organisasi juga dikhawatirkan mengganggu konsentrasi para kiai sepuh yang selama ini menjadi rujukan moral dan keagamaan bagi warga NU.
Situasi tersebut, kata dia, semestinya segera diakhiri melalui mekanisme organisasi yang bermartabat dengan mengedepankan kepentingan NU, bukan kepentingan kelompok maupun individu.
Muktamar Didorong Berlangsung Lebih Cepat
Baca Juga:
Prabowo Bicara Anomali Ekonomi RI, Kaget Tahu Penduduk Miskin Bertambah
Di tengah konflik yang belum sepenuhnya mereda, desakan agar Muktamar PBNU ke-35 digelar lebih cepat juga semakin menguat.
Forum Penyelamatan NU menyebut adanya dorongan dari sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) agar forum tertinggi organisasi tersebut dilaksanakan pada 27 Agustus 2026, lebih cepat dibandingkan agenda sebelumnya yang disebut dijadwalkan pada Desember 2026.
Abdul Hamid berharap Muktamar ke-35 tidak sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum rekonsiliasi untuk mengakhiri ketegangan internal.