"Saya hanya ketawa dan matiin ponsel lalu lanjut ngetik," ujarnya.
Menurut Uceng, ancaman yang diterimanya relatif mudah dikenali sebagai penipuan, sehingga kemungkinan besar banyak orang juga akan sampai pada kesimpulan yang sama.
Baca Juga:
Wall to Wall’: Ketika Apartemen Impian Berubah Jadi Arena Teror
Namun yang ia sayangkan, praktik penipuan semacam ini masih leluasa terjadi dan pelakunya bisa berkali-kali menghubungi korban tanpa rasa takut.
"Tapi bagaimana pun di negeri ini penipu macam begini terlalu diberi ruang bebas," kata Uceng.
Ia menilai penanganan terhadap kejahatan penipuan masih lemah, sementara data pribadi masyarakat dengan mudah diperjualbelikan dan dimanfaatkan untuk berbagai modus scam.
Baca Juga:
Tertawa di Tengah Teror: Film Korban Jatuh Tempo Usung Isu Pinjol dengan Gaya Nyeleneh
"Nyaris enggak pernah ada yang dikejar dengan serius," lanjutnya.
Uceng juga menyampaikan pesan tegas kepada para pelaku penipuan agar tidak lagi menjual nama institusi kepolisian untuk menebar ancaman.
"Yang kedua, kepada para penipu, jangan jualan polisi untuk mengancam dan nakutin orang-orang tertentu, enggak akan ngefek," tandasnya.