Kuasa hukum Tom Lembong kemudian menegaskan bahwa izin tersebut tetap diproses atas perintah langsung dari Engartiasto Lukita.
"Direktur impor menyampaikan bahwa instruksi ini berasal dari Menteri Perdagangan, Engartiasto Lukita, dengan alasan sebagai bagian dari diskresi dan kewenangan menteri," ucap kuasa hukum.
Baca Juga:
Sidang Korupsi JGSS Heboh, Jaksa Sebut Gus Miftah Diduga Terima Rp100 Juta dari Dana Proyek
Menanggapi pernyataan tersebut, Susy membenarkan bahwa instruksi itu berasal dari pimpinan Kemendag.
Dakwaan terhadap Tom Lembong
Dalam kasus ini, Jaksa mendakwa Tom Lembong karena dianggap lalai dalam mengendalikan distribusi gula yang seharusnya dilakukan oleh BUMN melalui operasi pasar dan program stabilisasi harga.
Baca Juga:
Hakim: Putusan Kasus Chromebook Nadiem Makarim Capai 1.146 Halama
Tom disebut tidak menunjuk BUMN dalam pengelolaan stok gula, melainkan memberikan izin kepada beberapa koperasi, seperti Induk Koperasi Kartika (Inkopkar), Induk Koperasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Inkoppol), Pusat Koperasi Kepolisian Republik Indonesia (Puskopol), dan Satuan Koperasi Kesejahteraan Pegawai (SKKP) TNI-Polri.
Jaksa juga menyebut bahwa Tom menerbitkan surat persetujuan impor gula kristal mentah (GKM) tanpa adanya rekomendasi dari Kementerian Perindustrian dan tanpa dasar rapat koordinasi antarkementerian.
Akibat kebijakan tersebut, negara mengalami kerugian sebesar Rp 578 miliar. Tom Lembong didakwa melanggar Pasal 2 atau Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.