Alhadid mengaku tidak mengetahui asal-usul maupun pihak yang memiliki sejumlah senjata tersebut.
Menurut Alhadid, 995 airsoft gun yang kini menjadi sorotan awalnya dibeli PT Lokta Karya Perbakin pada 2008.
Baca Juga:
Geger Aspol Bandung, Pria Berjaket Ojol Lepaskan Tembakan
Pembelian tersebut disebut dilakukan untuk kepentingan atlet Southeast Asian Shooting Association atau SEASA Championship.
“Ada namanya SEASA dulu,” ujar Alhadid yang juga menjabat Direktur Utama PT Lokta Karya Perbakin.
Ia mengatakan airsoft gun tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas olahraga dan pelatihan menembak.
Baca Juga:
Tragedi Malam Natal di Simalungun, Sejumlah Warga Kena Tembak Ala Koboi
“Untuk atlet olahraga, pendidikan, pelatihan, airsoft itu biasanya kami pakai,” kata Alhadid.
Setelah digunakan untuk kegiatan tersebut, ratusan airsoft gun itu kemudian disebut ditempatkan di sekolah pada 2021 melalui kerja sama antara yayasan dan Perbakin.
Pihak sekolah saat itu disebut berencana membuka kegiatan ekstrakurikuler menembak dan memanah bagi para siswa.