Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa restrukturisasi BUMN Karya memiliki dampak jangka panjang terhadap pengembangan kawasan ekonomi dan konektivitas nasional.
“BUMN Karya adalah tulang punggung pembangunan. Kalau tata kelolanya kuat, maka proyek infrastruktur tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga memberikan multiplier effect yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Baca Juga:
Rencana Danantara Pangkas 1.000 BUMN Jadi 300 Disorot Lembaga Pemeringkat Internasional
Lebih lanjut, ia menilai bahwa penguatan transparansi dan kepatuhan regulatif akan menjadi fondasi penting dalam menghadapi dinamika industri konstruksi yang semakin kompetitif, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan sektor swasta.
“Ke depan, BUMN Karya harus mampu bertransformasi menjadi entitas yang agile, adaptif, dan akuntabel. Ini bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang bagaimana memenangkan persaingan di tingkat nasional maupun global,” katanya.
Sebelumnya, Kepala BP BUMN yang juga menjabat sebagai Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa restrukturisasi BUMN Karya diarahkan untuk menciptakan perusahaan yang lebih solid, bersih, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Baca Juga:
Pemerintah Buka Rekrutmen 30.000 Manajer Kopdes Merah Putih, Jadi Pegawai BUMN
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan tata kelola, pembenahan laporan keuangan, serta peningkatan transparansi dan kepatuhan regulasi.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.