Menurut Tohom, pertumbuhan tersebut memperlihatkan semakin kuatnya keterhubungan Bandung dengan Cimahi, Padalarang, Cicalengka, Rancaekek, Purwakarta, Garut, serta wilayah penyangga lainnya.
Ia menilai pola serupa berkembang di berbagai kawasan yang memiliki hubungan ekonomi kuat antara kota inti dengan daerah di sekitarnya.
Baca Juga:
KEK Kura Kura Bali Buka Pasar Global bagi IKM, MARTABAT Prabowo-Gibran: Model Pemberdayaan yang Perlu Diperluas
“Data penumpang memberi pesan bahwa pembangunan transportasi tidak bisa lagi hanya memakai perspektif satu kota karena masyarakat tinggal di satu daerah, bekerja di daerah lain, bersekolah di wilayah berbeda, dan melakukan aktivitas ekonomi melintasi beberapa kabupaten atau kota setiap hari,” kata Tohom.
Di kawasan Yogyakarta-Solo, Commuter Line Yogyakarta-Palur melayani 4.719.593 pelanggan pada Semester I 2026 atau tumbuh 6,93 persen secara tahunan.
Commuter Line Prameks relasi Yogyakarta-Kutoarjo juga melayani 582.541 pelanggan sehingga kedua layanan tersebut mencatat total 5.302.134 pelanggan pada periode yang sama.
Baca Juga:
Transportasi Publik Rp8 Saat HUT RI, MARTABAT Prabowo-Gibran: Bisa Jadi Model Kolaborasi Jabodetabekjur
Konektivitas Solo Raya semakin diperkuat KA Bandara Internasional Adi Soemarmo yang melayani 461.482 pelanggan atau meningkat 24,73 persen pada Semester I 2026.
Sementara KA Joglosemarkerto yang menghubungkan sejumlah kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta mencatat 730.576 pelanggan selama enam bulan pertama 2026.
Tohom menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa jaringan kereta api dapat membentuk koridor ekonomi yang semakin luas ketika layanan komuter, regional, dan transportasi menuju bandara saling terhubung.