“Konektivitas yang baik akan memperluas pilihan masyarakat untuk bekerja dan berusaha tanpa harus seluruh aktivitas ekonomi terkonsentrasi di pusat kota, sehingga manfaat pertumbuhan dapat menyebar ke kawasan penyangga,” ujarnya.
Di Jawa Timur, jaringan KAI Commuter melayani 8.528.571 pelanggan pada Semester I 2026 atau tumbuh 8,23 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Baca Juga:
KEK Kura Kura Bali Buka Pasar Global bagi IKM, MARTABAT Prabowo-Gibran: Model Pemberdayaan yang Perlu Diperluas
Jaringan tersebut menghubungkan Surabaya dengan Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Mojokerto, Jombang, Malang, Blitar, serta sejumlah pusat industri, perdagangan, dan pariwisata.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan transportasi massal perlu ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan kawasan, bukan hanya sebagai proyek transportasi.
Menurutnya, konektivitas harus berjalan bersama dengan penataan permukiman, pusat ekonomi baru, kawasan industri, fasilitas pendidikan, serta simpul transportasi antarmoda.
Baca Juga:
Transportasi Publik Rp8 Saat HUT RI, MARTABAT Prabowo-Gibran: Bisa Jadi Model Kolaborasi Jabodetabekjur
“Kalau transportasi massal dibangun mengikuti arah perkembangan kawasan, masyarakat mendapatkan akses yang lebih mudah sementara pemerintah memperoleh instrumen untuk mengendalikan kemacetan, pemerataan ekonomi, dan pertumbuhan wilayah,” kata Tohom.
Ia melihat penguatan kereta api aglomerasi juga dapat membantu mengurangi tekanan penggunaan kendaraan pribadi di kota-kota besar.
Dampak lanjutannya dapat berupa pengurangan kemacetan, konsumsi bahan bakar, biaya perjalanan masyarakat, serta beban lingkungan akibat pertumbuhan kendaraan.