"Dan hanya orang dengan selera humor nakal seperti Emmanuel Macron yang bersedia mengusulkan lokasi tersebut," tulis Patrick Wintour.
Dalam draf perjanjian tahun 2025, Washington sebelumnya menuntut agar Iran tidak memiliki kapasitas pengayaan uranium domestik.
Baca Juga:
Minta Cek Rekam Jejak, KPK Sentil Parpol Usai Nur Alam Gabung PSI,
Amerika Serikat juga menekan Iran agar mengekspor seluruh cadangan uraniumnya sebagai bagian dari pembatasan program nuklir.
Namun, dalam KTT G7 di Évian pada Kamis (18/06/2026), Trump justru resmi mengakui hak Iran untuk melanjutkan pengayaan uranium domestik.
Pengakuan itu diberikan dengan alasan negara-negara lain di kawasan Teluk juga memiliki program serupa.
Baca Juga:
Frans Antoni Diduga Bawa Uang Narkoba ke Thailand 168 Kali, Nilainya Minimal Rp1 Miliar Sekali Jalan
Pemerintah Amerika Serikat kini juga melonggarkan aturan pengawasan terhadap stok uranium Iran.
Washington mengizinkan pengenceran stok uranium berkadar tinggi menjadi 3,67 persen dilakukan di dalam wilayah Iran di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.
Demi mengaktifkan kembali izin ekspor minyak mentah Iran, Amerika Serikat bahkan membuka pembebasan atau waiver sanksi pada sektor jasa keuangan, perbankan, transportasi, dan proteksi asuransi maritim.