WAHANANEWS.CO, Jakarta - Amerika Serikat dilaporkan diam-diam melayangkan proposal 15 poin kepada Iran untuk menghentikan konflik yang memanas, dengan tawaran besar berupa pencabutan sanksi dan kerja sama nuklir sipil sebagai imbalan pembatasan ketat program nuklir Teheran.
Laporan tersebut pertama kali mencuat pada Selasa (24/3/2026) dan mengungkap bahwa proposal mencakup penghentian pengayaan uranium hingga pembukaan kembali akses penuh Selat Hormuz yang sempat terganggu.
Baca Juga:
Jebol! Dua Rudal Iran Tembus Pertahanan Israel, Sistem Canggih Dipertanyakan
Disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator, proposal itu disebut menjadi upaya terbaru Washington membuka jalur diplomasi di tengah eskalasi militer yang belum mereda.
Direncanakan gencatan senjata selama satu bulan antara AS dan Iran, demikian dilaporkan media Israel Channel 12 yang dikutip AFP pada Rabu (25/3/2026).
Masa jeda konflik itu akan dimanfaatkan kedua pihak untuk merundingkan detail lanjutan dari proposal yang telah diajukan oleh AS.
Baca Juga:
Bikin BGN Murka Usai Joget di Dapur, Pria Ini Ternyata Kelola 7 Titik SPPG
Salah satu poin paling krusial dalam dokumen tersebut adalah tuntutan agar Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium di wilayahnya.
Diminta juga agar seluruh stok uranium yang telah diperkaya diserahkan, karena dinilai berpotensi dikembangkan menjadi senjata nuklir.
Selain itu, Iran diminta menjamin akses tanpa hambatan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi global.
Dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, Selat Hormuz memiliki posisi strategis yang membuat gangguan sekecil apa pun langsung mengguncang harga energi internasional.
Lonjakan harga energi global dipicu oleh blokade parsial Iran sebelumnya, yang memperketat lalu lintas minyak di kawasan tersebut.
Sebagai kompensasi, Iran disebut akan memperoleh penghapusan seluruh sanksi ekonomi yang selama ini membebani negaranya.
Akan diberikan pula bantuan pengembangan energi nuklir sipil, termasuk pada fasilitas Bushehr yang sebelumnya disebut menjadi target potensial serangan Israel.
Belum memberikan komentar resmi, Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS memilih bungkam terkait detail proposal tersebut.
“Jadi, kita tidak pernah mengatakan bahwa kita mau ikut iuran 1 miliar dolar,” ujar Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan terpisah pada hari yang sama, menegaskan optimismenya terhadap jalur diplomasi.
Pernyataan itu muncul setelah AS bersama Israel melancarkan serangan besar pada Jumat (28/2/2026) yang memicu eskalasi konflik terbuka dengan Iran.
Diawali dengan pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serangan tersebut kemudian dibalas oleh Iran dengan operasi militer yang memperluas ketegangan kawasan.
Tidak mencantumkan perubahan rezim, proposal AS ini dinilai fokus pada stabilitas keamanan dan pengendalian nuklir tanpa intervensi politik langsung di dalam negeri Iran.
Sementara itu, dalam beberapa pekan terakhir pemerintah Iran juga dilaporkan menindak keras gelombang protes massal yang menyebabkan ribuan korban jiwa.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]