Ia menyebut, pemerintah AS telah menyiapkan berbagai opsi untuk menghentikan kekerasan yang menurutnya telah berkembang menjadi aksi pembantaian.
“Presiden Trump adalah seorang yang bertindak, bukan hanya banyak bicara seperti yang kita lihat di PBB. Dia telah menjelaskan semua opsi tersedia untuk menghentikan pembantaian, dan tidak ada yang lebih tahu hal itu selain kepemimpinan rezim Iran,” ujar Waltz menekankan.
Baca Juga:
Pemerintah Indonesia Sambut Resolusi DK PBB untuk Gencatan Senjata di Gaza
Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi, menyampaikan keberatan keras atas langkah AS yang mengajukan pertemuan Dewan Keamanan.
Ia menilai permintaan sidang tersebut sebagai upaya Amerika Serikat untuk menutupi peran dan keterlibatannya dalam situasi yang terjadi di Iran.
“Sangat disayangkan bahwa perwakilan rezim Amerika Serikat yang meminta pertemuan ini hari ini telah menggunakan kebohongan, distorsi fakta, dan disinformasi yang disengaja. Untuk menyembunyikan keterlibatan langsung negaranya dalam mengarahkan kerusuhan di Iran menuju kekerasan,” ucap Darzi.
Baca Juga:
Israel Tak Senang DK PBB Mengheningkan Cipta untuk Ebrahim Raisi
Darzi menegaskan bahwa Iran secara tegas menolak seluruh tuduhan yang disampaikan Amerika Serikat.
Menurutnya, gambaran yang disampaikan AS dalam forum Dewan Keamanan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
“Rekayasa AS tentang pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal tidak mencerminkan realitas di lapangan, juga tidak akan menutupi kejahatan Amerika terhadap rakyat Iran. Tuduhan bahwa pemerintah Republik Islam Iran telah membunuh demonstran damai adalah distorsi fakta di lapangan,” kata Darzi.