Mantan Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo menilai langkah AS tersebut akan mempercepat terbentuknya dunia yang lebih terfragmentasi dan multipolar.
“Dunia multipolar akan dengan cepat terbentuk dan semakin jelas,” kata George Yeo dalam wawancara dengan media digital Shanghai, The Paper, yang dipublikasikan Kamis (9/1/2025).
Baca Juga:
Trump Serukan Warga Iran Terus Berdemo, Klaim Bantuan Sedang Menuju Lokasi
Menurut Yeo, pergeseran ini memaksa kawasan dan kekuatan utama dunia mencari keseimbangan baru, sementara PBB harus beradaptasi dengan perubahan distribusi kekuasaan global.
Di bidang tata kelola iklim, para pakar melihat peluang lebih besar bagi China untuk memengaruhi agenda terkait norma implementasi, pembiayaan hijau, dan standar teknologi.
Ping menilai posisi China sebagai penghasil emisi terbesar sekaligus produsen utama energi bersih memberinya daya tawar kuat dalam membentuk jadwal, metrik, dan kerangka kerja sama Selatan–Selatan.
Baca Juga:
Klaim Tak Butuh Hukum Internasional, Trump Tegaskan Siap Pakai Kekuatan demi Kepentingan AS
Meski demikian, ketidakpercayaan negara maju, keengganan China menerima komitmen mengikat, serta munculnya kekuatan tandingan dinilai membuat tatanan multipolar terfragmentasi lebih mungkin terjadi dibandingkan dominasi China.
Di Asia dan Pasifik, mundurnya AS dari lembaga seperti SPREP dan perjanjian ReCAAP berpotensi menciptakan celah strategis dalam tata kelola lingkungan dan keamanan maritim.
Kekosongan pendanaan di Pasifik dinilai dapat meningkatkan ketergantungan negara-negara kecil pada pembiayaan iklim dan proyek infrastruktur China.