Di Asia Tenggara, melemahnya ReCAAP berpotensi membuka ruang bagi skema berbagi informasi dan pelatihan keamanan maritim yang didukung Beijing.
China diperkirakan lebih memilih jalur bantuan bilateral dan misi teknis ketimbang tampil sebagai pemimpin multilateral terbuka, sebagai bagian dari perhitungan strategisnya.
Baca Juga:
Ketegangan di Selat Hormuz, Dua Kapal Pertamina Terjebak di Zona Rawan
“Keterlibatan multilateral dinilai China bukan hanya dari risiko dan keuntungan, tetapi juga dari tingkat kendali, keadilan kelembagaan, dan kesesuaian dengan tahap pembangunan nasional,” kata peneliti Universitas Tsinghua Sun Chenghao.
Sun menilai bidang seperti pembangunan, infrastruktur, kesehatan publik, ketahanan pangan, dan kerja sama iklim lebih menarik bagi Beijing dibanding ranah keamanan yang sarat politisasi.
Pendekatan selektif ini, menurut para analis, juga berkaitan erat dengan tekanan domestik China, mulai dari pengangguran kaum muda hingga lemahnya konsumsi rumah tangga.
Baca Juga:
Ditunjuk Pimpin Transisi Iran, Arafi Diterpa Rumor Tewas dalam Serangan Udara
Menjelang Kongres Partai Komunis 2027, stabilitas ekonomi dan politik dinilai akan lebih diprioritaskan dibanding komitmen global yang berbiaya tinggi.
“Prioritas domestik pada akhirnya meningkatkan konsekuensi ekonomi dari komitmen eksternal,” kata Sun.
Meski begitu, China disebut tidak akan sepenuhnya mundur dari panggung internasional, melainkan memfokuskan diri pada area di mana kepentingan domestik dan manfaat global saling beririsan.