Selain itu, Marsudi dinilai memiliki pengalaman panjang dalam organisasi keumatan dan NU.
“Kyai Marsudi adalah organisator yang berpengalaman. Beliau saat ini menjabat Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dan pernah menduduki posisi Sekretaris Jenderal serta Wakil Ketua Umum PBNU,” kata Abdul Hamid.
Baca Juga:
Hormati Khamenei yang Tewas Diserang AS, Menlu Sugiono dan Ketua MPR Terbang ke Iran
Sementara itu, figur ketiga yang disebut adalah Prof Dr KH Maskhri Abdila. Abdul Hamid menilai Maskhri memiliki latar belakang akademisi dan intelektual serta pengalaman dalam struktur organisasi NU.
Ia juga menyebut Maskhri pernah menjabat sebagai Ketua PBNU dan menjadi Staf Khusus Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.
Soroti Politik Transaksional
Baca Juga:
Menteri Haji Tegaskan Prabowo Tak Campuri Pemilihan Kepemimpinan Muktamar NU
Selain kapasitas dan pengalaman, Abdul Hamid menilai persoalan integritas dan pola mendapatkan dukungan menjadi aspek penting dalam menentukan kepemimpinan PBNU mendatang.
Menurut dia, ketiga nama yang disebut FPNU dinilai tidak menggunakan pendekatan transaksional untuk memperoleh dukungan dari PWNU maupun PCNU.
“Yang terpenting, ketiga tokoh ini tidak menggunakan cara-cara transaksional untuk mendapatkan dukungan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama maupun Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama,” tegasnya.