Abdul Hamid mengatakan kondisi internal NU saat ini membutuhkan sosok yang mampu mengedepankan rekonsiliasi dan konsolidasi organisasi.
“Kami tidak melakukan perbuatan tercela dengan cara menyogok atau menyuap pengurus wilayah maupun cabang NU untuk memilih seseorang. Kondisi internal NU saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang mampu melakukan konsolidasi dan menyatukan berbagai faksi,” ujarnya.
Baca Juga:
Hormati Khamenei yang Tewas Diserang AS, Menlu Sugiono dan Ketua MPR Terbang ke Iran
Ia berharap pemimpin PBNU periode 2026–2031 tidak hanya memiliki kemampuan administratif, tetapi juga mampu membangun komunikasi dengan seluruh elemen organisasi.
Menurut Abdul Hamid, kemampuan manajerial menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menata PBNU agar mampu merespons perubahan zaman dan berbagai tantangan yang dihadapi organisasi.
“Ketiganya juga bebas konflik sehingga diharapkan mampu menyatukan kembali faksi-faksi yang ada di NU,” katanya.
Baca Juga:
Menteri Haji Tegaskan Prabowo Tak Campuri Pemilihan Kepemimpinan Muktamar NU
Diharapkan Perkuat Peran NU di Dunia Internasional
Abdul Hamid optimistis terpilihnya salah satu dari tiga figur tersebut dapat membawa NU memainkan peran lebih besar, baik dalam lingkup nasional maupun internasional.
Ia menilai NU memiliki modal sosial dan jaringan global yang dapat dimanfaatkan untuk ikut berkontribusi dalam penyelesaian berbagai persoalan dunia.