Topik seperti keragaman dan pluralisme sekarang secara teratur dibahas di sekolah umum serta pelajaran akademis, tugas, bacaan, dan materi sekarang lebih cenderung mencakup perspektif, topik, dan contoh multikultural.
Dengan adanya internet, topik-topik semacam itu sudah semakin tidak bisa ditolak dalam masyarakat.
Baca Juga:
Kapolri Targetkan Berantas 290 Kampung Narkoba di Indonesia
Perilaku siswa yang berbahaya, menyakitkan, atau tidak sehat sekarang secara teratur muncul di situs jejaring sosial, seperti Facebook atau Twitter, yang sering kali mengarah pada kesadaran yang lebih besar tentang perilaku siswa atau tren sosial.
Kita pun sekarang semakin sadar bahwa hidden curriculum pada dasarnya tidak dapat lagi dikaburkan atau ditolak, yang berarti bahwa akan semakin banyak dari pelajaran yang mengharuskan para guru dan semua masyarakat sekolah sadar akan pesan yang terkandung di dalamnya.
Kurikulum tersembunyi bukanlah suatu yang naif, yang harus dihindari.
Baca Juga:
Terapkan Kurikulum Merdeka, SMABHAK Maumere Jadikan Pertukaran Pelajar Sebagai Inovasi Berkelanjutan
Dia dapat kita bicarakan bersama untuk mencari titik benang warna yang indah di dalamnya.
Jika kita lebih teliti memperhatikan proses belajar-mengajar yang dilakukan bersama para siswa, kita akan menemukan banyak sekali kurikulum tersembunyi ini.
Itu karena sering kali diulang-ulang, kurikulum tersembunyi tersebut bahkan sering kali lebih kuat dampaknya dalam diri siswa daripada kurikulum sekolah yang tertulis.