Pengalaman pahit saya sebagai pejabat Eselon I di kementerian 15 tahun yang lalu, praktek staf khusus dan tenaga ahli mengendalikan birokrasi sudah berlangsung. Terkadang instruksi itu datang dari staf khusus atas pesan Nadiem, dan bahkan saya pernah punya menteri tidak bisa dijumpai kecuali melalui staf khusus dan saat bertemu menteri tidak dapat sendiri Sang Menteri didampingi staf khusus. Sehingga ada anekdot dikalangan kami para Pejabat Eselon 1, staf khusus itu berperan sebagai wakil menteri.
Kasus Nadiem ini, mengingatkan saya kembali, bahwa karakter menteri dan kementerian itu dari dulu sampai sekarang belum berubah. Memelihara banyak orang pembantunya yang non organik, dan itu karena dimungkinkan dalam regulasinya.
Baca Juga:
Nadiem Makarim Syok Dituntut 18 Tahun Penjara dan Uang Pengganti Rp5 Triliun: Lebih Berat dari Teroris
Watak birokrasi itu sebagai tenaga organik, jurus silatnya sudah jelas. Ada yang membiarkan apa pun itu benar atau salah, silahkan nanti yang kena atasan. Ada juga yang menggunakan jurus silat menjadi “penjilat” dan ikut proaktif dalam “permainan” yang dilakukan atasannya.
Dari sidang-sidang Nadiem, kita menyimak bagaimana ceritanya organisasi bayangan itu mulai bekerja dari perencanaan sampai pelaksanaan nya di lapangan.
Yang jadi persoalan sejauh mana Nadiem dalam mengendalikan organisasi bayangan yang dimaksud JPU itu dapat mengarahkan dengan ketat kearah yang lurus, dan sesuai dengan rambu-rambu birokrasi. Perlu diingat Nadiem tidak punya pengalaman di birokrasi.
Baca Juga:
Emosi Kuasa Hukum Nadiem Pecah di Sidang Tipikor: Hukum Saja Sekarang!
Pengalaman panjang sebagai pengusaha yang sukses dalam platform digitalnya. Nadiem menganggap urusan pendidikan dapat diselesaikan dengan inovasi digitalisasi. Nadiem tidak mengerti apa itu nilai-nilai moral dalam dunia pendidikan, bukan saja kecerdasan.
Dalam dunia pendidikan bukan saja menanamkan investasi yang bersifat instrumen dan perangkat lunak sebagai alat, tetapi nilai investasi yang lupa dibangun Nadiem adalah Nilai moral dan karakter seorang anak didik. Kemauan untuk mendengar mereka yang sebagai sokoguru pendidikan tidak dilakukan. Modernisasi pendidikan di mata Nadiem adalah digitalisasi. Akibatnya Nadiem terjebak perangkap yang dibuatnya sendiri.
Kondisi itulah yang coba dibangun Nadien untuk meyakinkan JPU, bahwa Chromebook itu bermanfaat dalam proses belajar mengajar dengan berbagai cuplikan video para guru di daerah yang menyatakan itu. Tetapi esensi pendidikan itu sebagai proses menumbuhkan nilai-nilai budaya, agama, adat istiadat, kesopanan dan hubungan guru dengan murid terabaikan.