India menjadi salah satu negara yang mulai merasakan dampak berlapis dari krisis energi tersebut. Pemerintah sebelumnya mengalihkan pasokan bahan bakar untuk kebutuhan gas rumah tangga bagi sekitar 330 juta keluarga. Namun kebijakan itu mengurangi pasokan untuk pabrik pupuk.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru di tengah kenaikan harga pupuk dan ancaman cuaca kering akibat fenomena El Niño, terutama bagi India yang merupakan eksportir beras terbesar dunia.
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Energi Dampak Geopolitik, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kolaborasi dan Koordinasi BUMN Jadi Penentu Ketahanan Nasional
Perdana Menteri India Narendra Modi bahkan menyerukan penghematan nasional. Ia meminta warga membeli produk lokal, mengurangi perjalanan ke luar negeri, bekerja dari rumah, menggunakan transportasi umum, hingga meminta petani mengurangi penggunaan pupuk hingga separuh.
Filipina juga mengambil langkah ekstrem dengan menerapkan sistem kerja empat hari dalam seminggu untuk menghemat konsumsi bahan bakar. Pemerintah turut memberikan subsidi khusus bagi rumah tangga miskin.
Namun lembaga pemeringkat Fitch Ratings mencatat sebagian besar masyarakat Filipina tetap harus menanggung biaya energi yang lebih tinggi, sehingga aktivitas bisnis di kota-kota besar seperti Manila mulai melambat.
Baca Juga:
Arab Saudi Panik, Blokade Hormuz Bisa Picu Iran Tutup Jalur Laut Merah
Thailand mengalami tekanan serupa. Negara itu menghentikan kebijakan batas harga solar kurang dari sebulan setelah perang dimulai karena dana subsidi habis. Pemerintah kini memangkas pengeluaran lain demi menjaga stabilitas anggaran di tengah kenaikan harga minyak.
Sementara itu, Vietnam memperpanjang kebijakan pembebasan pajak bahan bakar untuk meredam kenaikan harga domestik. Meski demikian, kekurangan bahan bakar pesawat telah memaksa pengurangan sejumlah penerbangan.
Padahal sektor pariwisata menyumbang hampir 8% terhadap produk domestik bruto Vietnam.