Selain Asia, tekanan serupa mulai dirasakan di Afrika hingga Amerika Latin akibat lonjakan biaya energi dan terganggunya rantai pasok global.
CEO perusahaan risiko rantai pasok Interos.ai, Ted Krantz, memperingatkan bahwa gangguan kompleks dalam distribusi global akan terus memunculkan dampak lanjutan di berbagai sektor ekonomi dunia.
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Energi Dampak Geopolitik, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kolaborasi dan Koordinasi BUMN Jadi Penentu Ketahanan Nasional
Peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, Maria Monica Wihardja, menilai krisis ini juga memperlihatkan rapuhnya kelas menengah Asia yang selama ini tumbuh pesat.
Menurut dia, banyak masyarakat kini berada di ambang kembali jatuh ke kemiskinan akibat tekanan biaya hidup.
Dalam jangka panjang, perang Iran diperkirakan akan mengubah arah kebijakan energi Asia Tenggara. Sejumlah negara mulai mempercepat diversifikasi pemasok energi fosil, pengembangan energi nuklir, hingga memperluas investasi energi terbarukan seperti tenaga surya.
Baca Juga:
Arab Saudi Panik, Blokade Hormuz Bisa Picu Iran Tutup Jalur Laut Merah
Ekonom Asian Development Bank, Albert Park, mengatakan risiko geopolitik kini menjadi faktor utama yang langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara.
"Makin lama konflik berlangsung, dampak negatifnya akan semakin besar," kata dia.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.