"Bisnis sedang tidak bagus sekarang," kata pemandu wisata asal Hanoi, Nguyen Manh Thang. "Turis sudah mulai berkurang."
Negara-negara dengan kondisi fiskal lemah seperti Pakistan dan Bangladesh menghadapi tekanan yang lebih berat. Mereka kini harus membeli minyak dan gas dengan harga pasar yang jauh lebih mahal dan fluktuatif dibanding kontrak jangka panjang sebelumnya.
Baca Juga:
Antisipasi Krisis Energi Dampak Geopolitik, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kolaborasi dan Koordinasi BUMN Jadi Penentu Ketahanan Nasional
Akibatnya, biaya impor meningkat dan cadangan devisa mereka semakin tertekan.
Menurut Ahmad Rafdi Endut, pemerintah di Asia pada akhirnya harus memilih antara memangkas anggaran sosial demi mempertahankan subsidi energi atau menambah utang dengan risiko inflasi yang lebih tinggi.
Meski perang suatu saat berakhir, para analis memperingatkan pemulihan tidak akan terjadi secara instan.
Baca Juga:
Arab Saudi Panik, Blokade Hormuz Bisa Picu Iran Tutup Jalur Laut Merah
Samantha Gross mengatakan perdagangan minyak dan gas global tidak akan langsung kembali normal karena infrastruktur yang rusak membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk diperbaiki.
"Situasi kekurangan bahan bakar ini akan menjadi lebih buruk," ujar Henning Gloystein dari firma konsultan Eurasia Group.
Ia menyebut Asia Tenggara saat ini menjadi kawasan yang paling terpukul oleh gangguan energi global.