WAHANANEWS.CO, Jakarta - Serangan Iran ke Ras Laffan Industrial City di Qatar langsung mengguncang pasar energi global setelah merusak kompleks LNG terbesar di dunia dan memangkas sekitar 17 persen kapasitas ekspor gas alam cair negara tersebut, Jumat (20/3/2026).
Serangan ini menjadi salah satu eskalasi paling serius dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran karena untuk pertama kalinya infrastruktur energi strategis skala global ikut menjadi sasaran utama.
Baca Juga:
Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat? Ini Jawaban Ilmiahnya
Laporan Reuters menyebut kerusakan di fasilitas tersebut sangat besar dan berpotensi menimbulkan gangguan jangka panjang pada pasokan energi dunia.
Di tengah situasi itu, bos QatarEnergy Saad al-Kaabi mengungkap bahwa ia sebenarnya sudah lama memperingatkan risiko serangan terhadap fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk.
Ia mengatakan komunikasi intensif telah dilakukan dengan pejabat Amerika Serikat dan pelaku industri energi global.
Baca Juga:
Ford Tinggalkan Medan Perang, Dukungan AS ke Israel Dipertanyakan
“Mereka sadar akan ancaman itu. Saya selalu mengingatkan mereka, hampir setiap hari, bahwa kita perlu memastikan adanya pengendalian diri terkait fasilitas minyak dan gas,” ujar al-Kaabi.
Menurutnya, risiko tersebut sudah terlihat sejak awal seiring meningkatnya tensi geopolitik dengan Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Ia juga menyebut dirinya rutin berkoordinasi dengan Menteri Energi AS Chris Wright serta para eksekutif perusahaan energi mitra QatarEnergy.