Dari sisi Amerika Serikat, gangguan pasokan energi ini disebut telah masuk dalam perhitungan strategis.
Namun al-Kaabi menilai dampak sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan sekadar gangguan jangka pendek.
Baca Juga:
OJK Perketat Aturan Financial Influencer demi Lindungi Konsumen dari Informasi Menyesatkan
Ia menyebut konflik ini sudah memukul ekonomi kawasan Teluk secara luas.
“Pariwisata mati. Maskapai tidak bisa terbang… Perdagangan menurun. Tidak ada pergerakan badang dari pelabuhan mana pun,” ungkap al-Kaabi.
Menurutnya, dampak perang bahkan berpotensi membuat ekonomi negara-negara Teluk mundur hingga 10 sampai 20 tahun.
Baca Juga:
DJP Ingatkan Marketplace, Seller di Bawah Rp 500 Juta Setahun Tak Boleh Dipajaki
Di sisi lain, QatarEnergy juga belum dapat memastikan apakah kerugian besar akibat serangan ini akan sepenuhnya ditanggung oleh asuransi.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.