“Tidak perlu buru-buru menjadi anggota permanen,” kata dia.
Yon menambahkan, keanggotaan Indonesia akan berdampak positif apabila fokus utama BOP tetap pada penyelesaian konflik Gaza dengan menjaga kepentingan Palestina.
Baca Juga:
Bupati Karo Serahkan Traktor Bantuan Kementrian Pertanian Ke Kelompok Tani
Dalam konteks itu, Yon menilai peran Indonesia bersama negara-negara Arab menjadi krusial agar proses perdamaian tidak didominasi kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
“Maka kekuatan Indonesia dan tujuh negara Arab menjadi sangat penting bagi penyelesaian yang ada di Gaza,” ujar Yon.
Namun, ia mengingatkan keterlibatan Indonesia perlu ditinjau ulang jika BOP berkembang menjadi kekuatan tandingan terhadap PBB.
Baca Juga:
Trump Sesumbar Sudah Menang, Tapi Bingung Menentukan Akhir Perang Iran
“Jangan sampai kemudian menempatkan Indonesia ke dalam lembaga yang seperti itu,” kata Yon.
Pandangan kritis juga disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal terkait syarat biaya besar untuk keanggotaan permanen BOP.
Ia mempertanyakan urgensi pembayaran 1 miliar dollar AS yang dinilainya mencerminkan sifat transaksional dan elitis.